objek wisata Toraja

Posted On September 15, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

BATUTUMONGA

Click for more picturesBerlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona di atas Rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi.


BORI

Click for more picturesObyek wisata utama adalah rante (tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut simbuang batu. Seratus dua batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Penyebab perbedaan adalah situasi dan kondisi pada saat pembuatan / pengambilan batu, misalnya; masalah waktu, kemampuan biaya dan situasi pada masa kemasyarakatan. Megalit / simbuang batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor). Pada tahun 1657 Rante Kalimbuang mulai digunakan pada upacara Pemakaman Ne’Ramba’ dimana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan dua simbuang batu.

Selanjutnya pada tahun 1807 pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’ didirikan 5 buah simbuang batu, sedang kerbau yang dikorbankan sebanyak 200 ekor. Ne’Lunde yang pada upacaranya dikorbankan lebih dari 100 ekor kerbau didirikan 3 buah simbuang batu.
Selanjutnya berturut-turut sejak tahun 1907, banyak simbuang batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil dan secara khusus pada pemakaman Almarhumah Lai Datu (Ne’ Kase’) pada tahun 1935 didirikan satu buah simbuang batu yang terbesar dan tertinggi. Simbuang batu yang terakhir adalah pada upacara pemakaman Almarhum Sa’pang (Ne’Lai) pada tahun 1962.

Dalam kompleks Rante Kalimbuang tersebut terdapat juga hal-hal yang berkaitan dengan upacara pemakaman yaitu:

1. Lakkian yaitu persemayaman jenazah selama upacara dilaksanakan di Rante

2. Balakkayan yaitu panggung tempat membagi daging secara adat

3. Sarigan yaitu usungan jenasah Langi’ yaitu bangunan induk menaungi sarigan

4. Liang Pa’ / kuburan batu yang dipahat.


BUNTAO

Click for more picturesBuntao adalah kampung yang sangat menarik untuk dikunjungi khususnya di waktu hari pasar. Buntao mempunyai patane, iaitu kuburan yang berbentuk rumah Toraja. Dan di atas bukit di sekitar kampung banyak terdapat kuburan tua.


BUNTU KALANDO

Click for more picturesObyek wisata ini adalah Tongkonen Puang Sangalla’ yang telah difungsikan sebagai museum dan home stay terletak di elurahan Kaero, kecematan Sangalla’, 20 km dari kota Rantepao. Buntu Kalando mempunyai adat “Tando Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk” yaitu sebagai tempat kediaman Puang Sangalla’. Tonkonan ini dibangungun bersama dengan tiga lumbung padi (alang sura’).

Buntu Kalando sebagai Tongkonan Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk dilengkapi dengan beraneka ragam tanduk yaitu tanduk kerbau, tanduk rusa, dan tanduk anoa terpampang di bagian muka tongkonan dua buah kabongo’ yaitu satu kabongo’ bonga sura’ dan satu kabongo’ pudu’ serta di atasnya didudukkan katik yang menyerupai Langkan maega (burung elang), perlambang kebesaran.

Sebagai museum dalam tongkonan ini dilengkapi barang-barang koleksi antara lain:

  • Alat kerajaan Sangalla’
  • Pakaian kebesaran
  • Barang-barang bersejarah
  • Barang-barang antik
  • Alat-alat perang
  • Alat-alat ritus
  • Alat-alat pertanian
  • Alat-alat dapur
  • Alat-alat makan
  • Alat-alat minum
  • Barang-barang berchasiat (balo’)

Demikian sejarah singkat Buntu Kalando, yang selalu siap menanti kunjungan anda.


BUNTU PUNE

Click for more picturesObyek wisata Buntu Pune terletak ± 3 km arah selatan jurusan Ke’te’ Kesu’, Buntu Pune adalah salah satu permukiman yang dibangun oleh Pong Maramba’ disekitar tahun 1880 dan merupakan pusat pemerintahannya setelah menjadi Parengnge’ di wilayah Kesu’ dan Tikala. Pada lokasi tersebut terdapat beberapa lumbung dan tongkonan yang dipindahkan dari daerah perbukitan dan lereng-lereng gunung batu oleh generasi berikutnya serta dibangun bertipe permukiman orang Toraja zaman dulu yang bernuansa exklusif, sukar dicapai musuh karena pos-pos pengintaian yang berlapis-lapis serta didukung oleh situasi alam di sekitarnya. Buntu Pune didukung oleh latar belakang batu cadas dimana pada dinding-dinding batu tersebut terdapat gua-gua alam yang juga dimanfaatkan untuk kuburan-kuburan leluhur. Dengan demikian kita banyak menjumpai erong (peti mayat purba) di dalam liang-liang tersebut. Di lokasi tersebut terdapat juga patane (kuburan dari semen) di puncak gunung batu yang dibuat sekitar tahun 1918 dan sampai saat ini masih digunakan. Buntu Pune sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pada suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.


GALUGA DUA

Galuga DuaTongkonan Layukna Galuga Dua merupakan salah satu tongkonan yang dijadikan pengadilan, selain digunakan untuk pengadilan terhadap pelanggaran adat yang menjadi tanggung jawab To’Perengnge, juga merupakan pusat musyawarah para pemimpin keluarga dari Tongkonan Galuga dua untuk menentukan suatu rencana. Terletak sekitar 12 Km, arah utara dari Rantepao, Tongkonan Layukna Puang Galuga Dua; ini dibangun pada tahun 1189 oleh kedua putra Galuga. Dari kedua putranya ini, masing-masing membangun Tongkonan yaitu Tongkonan Papabannu’ dari putra pertama dan Banau Sura’ dari putra keduanya.

Tongkonan Layukna Galuga selain tongkonan keluarga Galuga Dua juga merupakan pusat pertenunan dengan bebagai motif sesuai dengan kebutuhan adat dan ciri khas budaya Toraja. Macam-macam motif tenunan adalah: Tenunan Pamiring khusus untuk sarung perempuan,Tenunan Sappa khusus untuk celana laki-laki, Tenunan Paramba’ khusus untuk selimut, Tenunan Paruki’ khusus taplak meja dan dekorasi atau hiasan dinding, tenunan Lando khusus tombi untuk pesta untuk  pesta rambu solo’ atau sapu randanan.


KAMBIRA – KUBURAN BAYI / PASSILIKAN

Click for more picturesSeseorang yang belum tembuh gigi apabila meninggal dunia akan dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra’. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300 tahun yang lalu.
Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut:

Bayi yang meninggal dibalut dengan kian putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.
Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan (ma’tanda kayu).
Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan rumah kediamannya.
Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau (kulimbang ijuk).
Membuat tana’ (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.
12 tana’ karurung bagi tingkatan bangsawan.
8 tana’ karurung bagi tingkatan menengah.
6 tana’ karurung bagi tingkatan bawah.

Ma’kadende’ yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong/disembelih di halaman rumah duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut:

· Dibawa dalam posisi dipangku.

· Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain.

· Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang.

Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tana’ /dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende’ (tali ijuk).
Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah ma’taletek pa’piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun.


KE’TE’ KESU’

Click for more picturesKe’te’ Kesu’ adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan / dilindungi. obyek wisata ini sangat menarik, oleh karena memiliki suatu kompleks perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura’ (lumbung padinya).
Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu’ di fungsikan sebagai tempat bermusyawarah, mengelolah, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu’, dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda Pitunna (7777). Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman (rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan menyejukkan hati.
Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja di lokasi ini.


LEMO BUNTANG

Click for more picturesLemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di desa Lemo. Di beri nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik. Sejak tahun 1960, obyek wisata ini telah ramai di kunjungi para wisatawan asing dan wisatawan nusantara.
Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan dolarnya, euronya atau rupiahnya pada kios-kios souvenir. Ataukah berjalan-jalan sekitar obyek menyaksikan buah-buah pangi yang ranum kecoklatan, yang siap diolah dan di makan sebagai makanan khas suku Toraja yang di sebut “Pantollo Pamarrasan”. Selamat menikmati.


LO’KO’ MATA

Click for more picturesLo’ko’ Mata (Lokomata) mengambil posisi di lerang gunung Sesean pada ketinggian ± 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu anda dapat menyaksikan panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan alam ini. Yang terletak di desa Pangden ± 30 km dari kota Rantepao.

Nama Lo’ko’ Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo’ko’ Mata sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.

Pada abad ke 14 (1480) datanglah pemuda Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada abad 16 tahun 1675 lubang rang ke II dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke 17 lubang yang ke III dibuat oleh Rubak dan Datu Bua’. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad ke / (milenium III). Luas areal obyek wisata. Lo’ko’ Mata ± 1 ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.


LOMBOK PARINDING

Click for more picturesKuburan Erong Lombok Parinding adalah merupakan salah satu obyek wisata yang menarik karena mempunyai daya tarik tersendiri seperti Erong yang unik dan antik, yang terletak di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean, kurang lebih 7 km dari kota Rantepao ke utara. Lombok Parinding pertama kali ditempati oleh salah seorang yang bernama Tomangli anak dari suami istri Bongga Tonapo dan Datu Banua sekaligus cucu dari suami istri Palairan dan Patodemmanik dan disitulah mereka menetap mendirikan rumah sambil bertani-sawah. Selanjutnya Tomangli melahirkan 8 orang dan anak Tomangli berkembang biak sampai sekarang (keturunan yang ke 7). Melihat dan memperhatikan serta menghitung-hitung umur dan kuburan erong Lombok Parinding mulai dari ke 8 orang anak-anak Tomongli sudah berumur kurang lebih 700 tahun. Demikianlah sejarah singkat kuburan erong Lombok Parinding. Semoga sejarah singkat ini dapat bermanfaat bagi wisatawan dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi.


LONDA

Click for more picturesSama dengan Lemo, Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak kepala manusia. obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalangi’ dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke selatan, adalah kuburan alam purba. Gua yang tergantung itu, menyimpan misteri yakni erong puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur, tau-tau. Tau-tau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo. Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan ± 1.000 m jauh kedalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang sudah terlatih dan profesional.
Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah “Benteng Pertahanan”. Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua alam ini. obyek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang berkunjung ke obyek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang, atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini.


MAKALE, IBUKOTA TANA TORAJA

Click for more picturesPada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang, penduduk yang hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum terbit (Makale’) oleh karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang bangun mendahului matahari terbit (Makale’) selalu mendapat keberuntungan atau rezeki. Tetapi karena perubahan ucapan kata maka Makale’ berubah menjadi Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai kota tenang dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam Makale.
Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara gereja, sembari kaki lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru. Banyak di antaranya mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur yang penuh dengan ukiran dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah yang tepat menghubungkan dengan daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini merupakan pusat aktivitas karena rakyat dari jauh datang dengan hasil produksinya berupa binatang, kerajinan tangan tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal.


MAKULA

Click for more picturesRekreasi bagi manusia-manusia modern yang kini hidup dalam abad komputer dan IPTEK yang canggih, bukan lagi sekedar sebagai pelengkap, tapih sudah menjadi kebutuhan utama, untuk membuat otak, hati dan perasaan mengalami refreshing. Oleh sebab itu kami mengajak anda untuk segera mengunjungi kolam renang air panas Makula yang jaraknya hanya 28 km dari kota Rantepao. Di tempat ini ada sumber mata air panas, di samping ada rumah tempat istirahat mempunyai bak mandi dengan sumber mata air yang mengalir. Di muka ada kolam kecil untuk anak-anak diisi oleh air panas yang mengalir dari belakang rumah. Tempat ini sangat baik untuk berendam di air panas setelah perjalanan jauh. Pergi pulang, anda dapat menikmati pemandangan alam yang menyenangkan hati. Selamat berekreasi dan jangan lupa membawa keluarga.


MARANTE

Click for more picturesPada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa’ Ba’bana Tondon Apa’ Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba’ta, Kondo’ dan Langi’. Sangpulo dua Karopi’na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim disebut Toparenge’, yaitu Marante dan Barang Bua’. Fungsi Toparenge’ disini adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu upacara pesta syukur (Rambu Tuka’) maupun upacara pesta pemakaman (Rambu Solo’), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia.
Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik

Obyek wisata Marante memiliki banyak daya tarik peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa;
- Rumah adat (rumah tongkonan)
- Patung-patung (tau-tau)
- Erong
- Kuburan batu/liang pahat
- Patane (kuburan kayu)

Dan masih banyak lagi pemandangan yang bisa memikat hati wisatawan. Demikianlah sekelumit sejarah singkat dan daya tarik obyek wisata Marante.


NANGGALA (PENANIAN)

Click for more picturesDahulu kala seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama “Tomadao” bertualang. Dalam petualangannya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung Tibembeng bernama “Tallo Mangka Kalena”. Mereka kemudian menikah dan bermukim di sebelah timur desa Palawa’ sekarang ini yang bernama Kulambu. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane’ yang kemudian menikahi seorang wanita bernama Lai Rangri’. Kemudian mereka beranak pinak dan mendirikan sebuah kampung yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Apabila ada peperangan antara kampung dan ada lawan yang menyerang dan dikalahkan/dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang dan disebut Pa’lawak. Pada pertengahan abad ke 11 berdasarkan musyawarah adat disepakati mengganti nama Pa’lawak menjadi Palawa’. Palawa’ sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dengan ayam, dan disebut Pa’lawa’ manuk.
Keturunan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa’.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.